Rabu, 05 Januari 2011

5 Alasan Gak Seks Sebelum Nikah

#1. Resiko terkena penyakit yang ditularkan melalui seks jadi tipis.
Sekarang ini PMS (Penyakit Menular Seksual) banyak banget jenisnya. Ada yang gak bisa sembuh lagi, ada juga yang kambuh-kambuhan. Waduh, jangan sampai kena deh. Orang bilang seks yang aman itu ya nggak melakukan seks, terhindar dari segala resiko penyakit kelamin, selain itu? Ya resikolah..

#2. Lebih mudah bercerai.
Survey menunjukkan bahwa orang yang melakukan seks sebelum menikah cenderung meremehkan lembaga pernikahan. Katanya pernikahan itu gak ada poinnya, hanya selembar kertas. Umumnya kalo dia entar menikah, akan lebih mudah untuk mengalami kegagalan, alias cerai. Ketahanan memegang komitmen pernikahannya jadi lebih rendah.


#3. Kita akan lebih menghargai pasangan kita.
Ternyata kebiasaan ML sebelum nikah seringkali membuat masalah kecil tersulut menjadi pertengkaran besar. Karena tanpa sadar, ada rasa kurang menghargai, memandang rendah integritas pribadi satu sama lain. Seringkali pada waktu berantem terlintas dalam benak masing-masing menganggap rendah pasangan, murahan, gampangan, dsb.

#4. Resiko keturunan kita hancur makin tinggi.
Kalau semua hal di atas digabung jadi satu, kira-kira keluarga yang terbangun bakal seperti apa ya? Anak-anak yang tumbuh di keluarga seperti itu bakal seperti apa ya? Bill Cosby bilang dalam acara Oprah, itulah penyebab begitu banyak kasus kriminal yang terjadi, karena keluarga yang kurang sehat.

#5. Lebih sehat secara pikiran dan emosional juga
Ahli psikologi menemukan ternyata orang yang sudah pernah ML sebelum menikah, biasanya sedikit banyak menyimpan rasa bersalah di dalam hatinya. Ada perasaan kecewa terhadap dirinya sendiri, cenderung merasa dirinya kurang berharga, dsb. Dan itu akan terbawa terus dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan selanjutnya

Hati-hati Main Game

Doyan main game? Di Sega, Play Station atau komputer? Boleh-boleh aja asal jangan lupa waktu. Hidup bukan hanya buat bermain. Untuk sekedar refreshing dan melepas stress nggak ada salahnya main solitaire di PC (komputer pribadi) atau ngundang temen-temen ngadu sepakbola ala Winning Eleven di mesin PS.
Tapi… ini yang bahaya. Kalau udah lupa waktu, lupa makan, lupa belajar, lupa mandi (iiih…jorok!) lupa tidur dan bahkan jadi malas berdoa dan baca alkitab. Ini namanya udah keterikatan dan mesti diubah! Atau karena game kita jadi “teralienasi” karena serasa hidup di dunia yang berbeda. Ingat, you still have a life to do! Jangan kelamaan berada di dunia game. Main terlalu lama bisa bikin badan pegel, mata sakit dan jari tangan jadi kapalan. Bahkan di beberapa CD ROM untuk komputer aja sekarang udah dicantumkan peringatan/anjuran agar jangan bermain terlalu lama. (Dianjurkan setiap dua jam bermain non-stop harus ada break selama setengah jam)
Ada bahaya bagi kita yang senang main game bertema kekerasan atau mistik. Apa yang ditampilkan kadang sungguh sadis. Tapi ini kan bukan sungguhan, makanya karena ini game jadi bolehlah ditampilkan yang sadis, vulgar atau sedikit X (porno). Hati-hati! Di dalam tiap kemasan game sekarang sudah ada tanda peringatan mengenai isi permainan dengan kode huruf: 

-EC (Early Childhood) permainan sederhana untuk anak-anak dan balita, biasanya belajar mengenal huruf, kosakata, berhitung, dll.

-E (Everyone) permainan ringan dan sederhana dalam temanya. Mengandung humor dan sedikit adegan kekerasan yang tidak vulgar dan boleh untuk segala usia.

-T (Teenager) permainan agak rumit dalam pengendaliannya. Idem dengan E

-M (Mature) permainan rumit dan ada tambahan adegan kekerasan yang sadis, tidak cocok untuk remaja dan anak-anak.

-AO (Adult Only) permainan ini menampilkan banyak adegan kekerasan yang sadis dan juga pornografi yang vulgar. Sangat tidak cocok untuk siapapun sebenarnya…

Jadi? Pilihlah game yang aman untuk dimainkan. Adegan kekerasan mungkin kelihatannya sepele karena hanya disaksikan dan orang yang menyaksikan mungkin berkata dalam hati: Ah, itu kan bo’ongan! Nggak bakalan aku tiru deh… Dari apa yang sering kita lihat dan dengar kita akan terpengaruh. Semakin sering kita diekspos dengan adegan kekerasan, makin berkurang kepekaan kita bahwa tindakan tersebut sebenarnya menyakitkan. Gimana nggak? Jika bisa melukai lawan, kita mendapat skor lebih tinggi, maka secara nggak sadar kita jadi punya dorongan dan naluri untuk bertindak seperti itu karena itulah yang “dianjurkan” dalam game. (anakmuda.net)