Minggu, 14 September 2014

Marah atau Bersyukur

Ketika Allah melihat perbuatan mereka, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah (Yunus 3:10)

Apa reaksi yang kita lontarkan ketika Allah menunjukkan belas kasihan epada orang-orang yang menurut kita layak untuk dihukum? Apabila kita tidak setuju, hal itu menunjukkan bahwa kita pun telah lupa betapa besar pengampunan Tuhan bagi kita.

Setelah Yunus mengikuti panggilan Allah yang kedua kalinya untuk menyerukan penghakiman-Nya terhadap Niniwe (Yunus 3:1-4), penduduk kota itu berbalik dari cara hidup mereka yang jahat, sehingga Tuhan tidak jadi menghukum mereka (ayat 10). Belas kasih Allah membuat Yunus marah. Ia kemudian berkata kepada Allah bahwa itulah yang ia takutkan akan terjadi, dan karena itulah ia sempat melarikan diri ke Tarsis. Aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang ... yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2).

Akan tetapi, Allah berfirman kepada Yunus, Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang? (4:11).

Kasih karunia Allah yang mengagumkan jauh lebih besar daripada dosa kita. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Karena kasih karunia-Nya kepada kita, kita harus ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni [kita] (4:32).

Daripada kita marah ketika Allah berbelas kasih kepada orang lain, alangkah lebih baiknya apabila kita mengucapkan syukur DCM

KITA BOLEH BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA SESAMA
JIKA KRISTUS BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA KITA

Hanya untuk dilihat Tuhan

Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:18)

Biasanya, semakin tua usia kita, kita pun akan semakin kehilangan peran penting dan pengaruh dalam posisi kita. Bahkan orang-orang yang tidak pernah mengejar ketenaran pun tampaknya semakin lama akan semakin tenggelam dalam kegelapan.

Namun, kegelapan dan ketidakjelasan itu baik karena kita sulit untuk tampil di hadapan banyak orang tanpa memikirkan apa kesan mereka tentang kita. Kita khawatir dengan pikiran apakah reputasi kita menanjak atau justru hancur. Di situlah terletak cobaan kita: Pada tahap pencarian pengakuan manusia, kita mengabaikan kehendak Allah. Di sisi lain, jika kita kehilangan kekaguman terhadap manusia, maka kita akan mencari kehendak Allah semata.

Berikut adalah ujian bagi setiap pemberian, doa, dan puasa kita: Apakah itu semua dilakukan hanya agar dilihat Allah? Jika demikian, walaupun orang lain tidak melihat dan memerhatikan, kita akan mendapatkan pujian dan upah dari Bapa.

Yesus mengulang perkataan berikut kepada para murid-Nya sebanyak tiga kali: "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:4,6,18). Ini juga merupakan jaminan bagi kita. Setiap pemberian yang tidak dilihat oleh orang: waktu, tenaga, dan kasih; setiap permohonan yang kita bisikkan di telinga Bapa; setiap rahasia, pergumulan batin melawan dosa dan pembenaran diri, akan memperoleh penghargaan penuh di kemudian hari. Akhirnya, bahwa Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia," itu adalah yang terpenting bagi kita (Matius 25:21) -DHR

TIDAK ADA UPAH DARI ALLAH

BAGI MEREKA YANG MENCARINYA DARI MANUSIA -Spurgeon

Berjalan Dalam DebuNya

Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya ... lalu mengikuti Dia (Markus 1:20)

Pada abad pertama, seorang Yahudi yang ingin menjadi murid seorang rabi (guru) harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk mengikuti sang rabi. Mereka akan menjalani hidup bersama selama 24 jam setiap hari. Mereka akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengajar dan belajar, serta bekerja. Mereka berdiskusi dan menghafalkan Kitab Suci serta menerapkannya dalam hidup mereka.

Panggilan menjadi seorang murid, seperti yang dijelaskan dalam berbagai tulisan Yahudi pada zaman mula-mula mengenai etika dasar, adalah menyelubungi dirinya dalam debu kaki [sang rabi], meneguk setiap perkataannya. Ia mengikuti rabinya dengan begitu dekat sehingga ia akan berjalan dalam debunya. Dengan melakukan hal itu, ia akan menyerupai sang rabi, gurunya.

Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes mengetahui bahwa ini merupakan tipe hubungan yang diinginkan oleh Yesus ketika Dia memanggil mereka (Markus 1:16-20). Jadi, mereka pun segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Dia (ayat 20). Selama rentang waktu tiga tahun mereka bergaul karib dengan-Nya. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan berbagai mukjizat-Nya, mempelajari berbagai prinsip-Nya, dan berjalan dalam debu-Nya.

Sebagai pengikut Yesus yang hidup pada zaman ini, kita pun dapat berjalan dalam debu-Nya. Dengan meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman-Nya serta menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, kita akan menjadi seperti rabi kitaYesus AMC

IMAN DALAM KRISTUS TIDAK HANYA SATU LANGKAH
TETAPI PERJALANAN SEUMUR HIDUP BERSAMA-NYA