Minggu, 14 September 2014

Marah atau Bersyukur

Ketika Allah melihat perbuatan mereka, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah (Yunus 3:10)

Apa reaksi yang kita lontarkan ketika Allah menunjukkan belas kasihan epada orang-orang yang menurut kita layak untuk dihukum? Apabila kita tidak setuju, hal itu menunjukkan bahwa kita pun telah lupa betapa besar pengampunan Tuhan bagi kita.

Setelah Yunus mengikuti panggilan Allah yang kedua kalinya untuk menyerukan penghakiman-Nya terhadap Niniwe (Yunus 3:1-4), penduduk kota itu berbalik dari cara hidup mereka yang jahat, sehingga Tuhan tidak jadi menghukum mereka (ayat 10). Belas kasih Allah membuat Yunus marah. Ia kemudian berkata kepada Allah bahwa itulah yang ia takutkan akan terjadi, dan karena itulah ia sempat melarikan diri ke Tarsis. Aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang ... yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2).

Akan tetapi, Allah berfirman kepada Yunus, Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang? (4:11).

Kasih karunia Allah yang mengagumkan jauh lebih besar daripada dosa kita. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Karena kasih karunia-Nya kepada kita, kita harus ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni [kita] (4:32).

Daripada kita marah ketika Allah berbelas kasih kepada orang lain, alangkah lebih baiknya apabila kita mengucapkan syukur DCM

KITA BOLEH BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA SESAMA
JIKA KRISTUS BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA KITA

Hanya untuk dilihat Tuhan

Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:18)

Biasanya, semakin tua usia kita, kita pun akan semakin kehilangan peran penting dan pengaruh dalam posisi kita. Bahkan orang-orang yang tidak pernah mengejar ketenaran pun tampaknya semakin lama akan semakin tenggelam dalam kegelapan.

Namun, kegelapan dan ketidakjelasan itu baik karena kita sulit untuk tampil di hadapan banyak orang tanpa memikirkan apa kesan mereka tentang kita. Kita khawatir dengan pikiran apakah reputasi kita menanjak atau justru hancur. Di situlah terletak cobaan kita: Pada tahap pencarian pengakuan manusia, kita mengabaikan kehendak Allah. Di sisi lain, jika kita kehilangan kekaguman terhadap manusia, maka kita akan mencari kehendak Allah semata.

Berikut adalah ujian bagi setiap pemberian, doa, dan puasa kita: Apakah itu semua dilakukan hanya agar dilihat Allah? Jika demikian, walaupun orang lain tidak melihat dan memerhatikan, kita akan mendapatkan pujian dan upah dari Bapa.

Yesus mengulang perkataan berikut kepada para murid-Nya sebanyak tiga kali: "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:4,6,18). Ini juga merupakan jaminan bagi kita. Setiap pemberian yang tidak dilihat oleh orang: waktu, tenaga, dan kasih; setiap permohonan yang kita bisikkan di telinga Bapa; setiap rahasia, pergumulan batin melawan dosa dan pembenaran diri, akan memperoleh penghargaan penuh di kemudian hari. Akhirnya, bahwa Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia," itu adalah yang terpenting bagi kita (Matius 25:21) -DHR

TIDAK ADA UPAH DARI ALLAH

BAGI MEREKA YANG MENCARINYA DARI MANUSIA -Spurgeon

Berjalan Dalam DebuNya

Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya ... lalu mengikuti Dia (Markus 1:20)

Pada abad pertama, seorang Yahudi yang ingin menjadi murid seorang rabi (guru) harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk mengikuti sang rabi. Mereka akan menjalani hidup bersama selama 24 jam setiap hari. Mereka akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengajar dan belajar, serta bekerja. Mereka berdiskusi dan menghafalkan Kitab Suci serta menerapkannya dalam hidup mereka.

Panggilan menjadi seorang murid, seperti yang dijelaskan dalam berbagai tulisan Yahudi pada zaman mula-mula mengenai etika dasar, adalah menyelubungi dirinya dalam debu kaki [sang rabi], meneguk setiap perkataannya. Ia mengikuti rabinya dengan begitu dekat sehingga ia akan berjalan dalam debunya. Dengan melakukan hal itu, ia akan menyerupai sang rabi, gurunya.

Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes mengetahui bahwa ini merupakan tipe hubungan yang diinginkan oleh Yesus ketika Dia memanggil mereka (Markus 1:16-20). Jadi, mereka pun segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Dia (ayat 20). Selama rentang waktu tiga tahun mereka bergaul karib dengan-Nya. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan berbagai mukjizat-Nya, mempelajari berbagai prinsip-Nya, dan berjalan dalam debu-Nya.

Sebagai pengikut Yesus yang hidup pada zaman ini, kita pun dapat berjalan dalam debu-Nya. Dengan meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman-Nya serta menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, kita akan menjadi seperti rabi kitaYesus AMC

IMAN DALAM KRISTUS TIDAK HANYA SATU LANGKAH
TETAPI PERJALANAN SEUMUR HIDUP BERSAMA-NYA

Sabtu, 13 September 2014

Kuda dan Anak Manusia

Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati (Amsal 11:2)

Dalam salah satu novel berseri Narnia yang berjudul Kuda dan Anak Manusia, Bree adalah seekor kuda yang bisa berbicara. Ia menganggap anak lelaki yang menungganginya, Shasta, sebagai "anak kuda" yang sangat membutuhkan latihan. Kerap kali pendapat-pendapat angkuh si kuda mencerminkan sikapnya yang sombong. Ia menganggap dirinya sebagai kuda perang yang gagah berani, dan memiliki kemampuan serta keberanian yang hebat. Namun, sewaktu mendengar auman singa besar, ia lari dan membiarkan anggota rombongan lainnya terancam.

Di kemudian hari, Bree menemui Aslan sang singa, yang adalah raja Narnia. Kuda itu mengakui bahwa selama ini ia adalah sosok yang gagal karena sombong dan penakut. Dan, Aslan pun memuji Bree karena telah mengakui kesalahannya.

Alkitab mengatakan, "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Amsal 16:18). Hidup ini memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kelemahan kita, saat kita menjadi sombong. Oleh sebab itu, dengan belajar bahwa "kecongkakan mendahului kehancuran" kita dapat menemukan titik balik yang membuat kita tak lagi meninggikan diri. Dan, saat kita bersikap rendah hati di hadapan Allah dan manusia, kita dapat menjadi saluran hikmat bagi orang lain. "Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati" (Amsal 11:2).

Menonjolkan betapa pentingnya diri kita akan membuat kita tersandung. Namun, memusatkan perhatian untuk memuliakan Allah dan memenuhi kebutuhan sesama akan memberi kita cara pandang orang bijak --HDF

KEANGKUHAN MEMBAWA CEMOOH
KERENDAHAN HATI MEMBAWA HIKMAT

Berdoa Sambil Berbagi

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)

Sebuah penelitian berjudul "Kepedulian AS" memperkirakan lebih dari 44 juta warga Amerika adalah pekerja pembantu bidang medis atau perawatan yang tak dibayar, dan kebanyakan masih bekerja atau telah bekerja sambil membagikan kepedulian. Penelitian itu juga mendapati bahwa Tuhan, keluarga, dan teman-teman kerap disebut sebagai sumber kekuatan bagi mereka yang berbagi kepedulian dengan orang lain.

Tiga per empat dari responden mengatakan bahwa mereka bersandar pada kekuatan doa ketika diminta memberikan perawatan. "Doa adalah cara terbaik untuk menyegarkan kembali diri Anda," kata seorang responden. "Saya pergi ke tempat yang tenang, berdoa, menangis, dan merasa lega. Kemudian saya dapat kembali ke ruangan dengan perasaan tenang."

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan," kata pemazmur, "sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti" (Mazmur 46:2). Kalimat itu dibahasakan ulang oleh Eugene Peterson dengan sangat jelas: "Allah adalah tempat persembunyian teraman, Dia selalu siap untuk membantu saat kita membutuhkan-Nya."

Melalui doa, kita dapat masuk hadirat Tuhan yang menenangkan dan mendapat kekuatan untuk terus melangkah. Ketika kita menyerahkan rasa sakit hati dan semua kebutuhan kepada Allah, Dia akan memenuhi dan memberikan damai-Nya. Dialah bantuan yang selalu siap sedia, yang memedulikan kita dalam segala keadaan.

Memberikan bantuan adalah panggilan yang mulia dan tugas yang sulit. Namun, ada kekuatan dari Tuhan yang membantu kita untuk menolong mereka yang membutuhkan kita -DCM

DOA DAPAT MENDEKATKAN KITA DENGAN ALLAH;

PENOLONG TERHEBAT BAGI KITA

Mengenal YESUS

Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus (2Petrus 3:18)

Dalam bukunya yang berjudul The Call, Os Guinness bercerita tentang Arthur Burns, ketua Federal Reserve Board Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Burns, yang adalah seorang Yahudi, bergabung dengan kelompok Pemahaman Alkitab yang pada saat itu diadakan di Gedung Putih. Pada suatu hari, para anggota kelompok Pemahaman Alkitab itu terkejut tatkala mendengarkan doa Burns, Ya Allah, semoga tiba saatnya ketika semua orang Yahudi mengenal Yesus. Tetapi mereka lebih terkejut lagi ketika ia berdoa agar tiba saatnya ketika semua orang kristiani mengenal Yesus.

Burns menegaskan kebenaran mendasar yang harus kita gumulkan. Meskipun kita telah mengklaim nama Yesus Kristus, belum tentu orang lain dapat melihat bahwa kita sungguhsungguh mengenal Dia. Apakah kita telah memiliki hubungan pribadi dengan-Nya? Jika iya, apakah kita telah berjuang keras, berdoa, dan berusaha semakin mengenal Yesus setiap hari?

Petrus, orang yang mengenal Yesus dengan sangat baik, mengatakan bahwa pengenalan akan Allah dan akan Yesus Tuhan kita akan melimpahi kita kasih karunia dan damai sejahtera (2Petrus 1:2). Pengenalan akan Yesus memberi kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh (ayat 3). Dan pengenalan terhadap pribadi Yesus akan menolong kita mengembangkan karakter yang menunjukkan kepada dunia bahwa kita memiliki hubungan pribadi dengan-Nya (ayat 5-8).

Apakah pada saat ini kita dapat dengan jujur berkata, Pada hari ini saya mengenal Yesus secara lebih baik daripada hari kemarin? JDB

SEMAKIN ANDA MENGENAL YESUS DALAM HATI
DUNIA AKAN SEMAKIN MELIHAT YESUS DALAM HIDUP ANDA

Jumat, 12 September 2014

Membuat Sebuah Mahakarya

Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Korintus 5:17)

Salah satu kenangan tentang Ayah di masa kanak-kanak saya adalah ia sangat suka mewarnai gambar yang diberi kode angka untuk masing-masing warna. Kanvas gambarnya memang besar, tetapi bidang yang diberi angka-angka untuk dipulas sesuai warna yang telah ditetapkan, tampak sangat kecil.

Ayah biasanya duduk di kursinya di ruang bawah tanah selama berjam-jam sembari mengerjakan gambar di hadapannya dengan sangat cermat sambil ditemani secangkir kopi di sampingnya. Ketika masih kecil, saya biasanya duduk di anak tangga ruang bawah tanah dan memandangi ayah saya dengan takjub.

Saya sangat sadar bahwa mewarnai lukisan dengan kode warna semacam itu tidak akan pernah menjadikan ayah saya seorang seniman terkenal. Namun, saya begitu takjub saat mengamati kesabarannya dalam mengerjakan setiap lukisan tersebut. Akhirnya, ribuan serpihan warna di situ membentuk sebuah gambar yang membuat ayah saya merasa puas.

Tatkala merenungkan kesabaran Ayah dalam menghidupkan sebuah lukisan, saya teringat kepada Bapa surgawi. Saat menatap hidup kita, Dia melihat begitu banyak kehampaan serta ketidaksempurnaan, tetapi Dia bekerja dengan penuh kasih dan kesabaran untuk menjadikan kita mahakarya-Nya -- sebuah mahakarya yang "serupa dengan gambaran Anak-Nya" (Roma 8:29).

Alangkah bersukacitanya kita memiliki Tuhan seperti itu, yang menjadikan kita ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) dan tidak pernah lelah memberikan kesabaran dan ketekunan-Nya untuk menjadikan hidup kita indah! --WEC

HANYA TUHAN YANG MAMPU MENGUBAH JIWA YANG TERNODA DOSA MENJADI MAHAKARYA ANUGERAH

Pindah Alamat

Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-itu memang jauh lebih baik (Filipi 1:23)

Setiap 26 tahun atau lebih, kami pindah ke rumah baru. Sebenarnya, saya dan Sue pindah ke rumah pertama kami pada saat putri pertama kami masih bayi.

Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menempati rumah itu selama 26 tahun. Kami merasa sangat sedih ketika harus meninggalkan rumah itu untuk pindah ke rumah yang lain. Pada hari kepindahan kami, setelah semua barang dikeluarkan dari rumah, kami berjalan mengelilingi rumah itu untuk terakhir kalinya, untuk menghidupkan kembali kenangan yang kami miliki.

Saat yang tersulit bagi kami adalah ketika kami masuk ke kamar Melissa. Ia meninggalkan kami dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya. Sekarang, kami harus mengatakan selamat tinggal pada kamar yang penuh hiasan bunga matahari kesukaannya.

Ketika saya merenungkan saat yang emosional ketika kami pindah rumah, saya diingatkan kembali tentang kepindahan luar biasa yang dialami Melissa saat ia menghadap ke hadirat Allah.

Kepindahan kami ke rumah yang baru tersebut tidak sebanding dengan kemuliaan yang kini dirasakan putri kami di surga. Kami merasakan penghiburan sangat besar ketika menyadari bahwa orang terkasih kami yang telah meninggal, yang percaya kepada Yesus, kini tinggal di kerajaan Allah yang megah! (2Korintus 5:1).

Apakah Anda sudah siap pindah "rumah" untuk yang terakhir kalinya? Di mana pun tempat tinggal Anda di dunia ini, pastikanlah bahwa rumah terakhir yang akan Anda tempati nantinya adalah surga -JDB

RUMAH SURGAWI KITA ADALAH RUMAH KITA YANG SEBENARNYA

Kamis, 11 September 2014

Menyanyi Bagi Tuhan

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)

Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi. 

Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian tetapi Tuhan melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti.
Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).

Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Tuhan akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Tuhan masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita.

Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13). Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi! DHR

PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN

Membawa Mereka ke Salib

Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus (Galatia 6:14)

Banyak kisah mengharukan beredar setelah terjadinya serangan teroris di gedung World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Tampaknya tidak ada seorang pun yang merasakan pengalaman rohani dalam peristiwa itu, kecuali Frank Silecchia, seorang pandai besi. 

Saat membantu mencari mayat-mayat yang tertimbun, Frank memerhatikan ada dua tiang baja berbentuk salib berdiri tegak di tengah reruntuhan. Frank yang menemukan kekuatan saat melihat simbol kasih Tuhan yang tampak mencolok itu, kerap membawa para pengunjung yang pilu untuk melihat salib tersebut. Banyak di antara mereka terhibur oleh kesaksian bisu tentang adanya hadirat ilahi dalam tragedi naas itu.

Suatu hari, ketika seorang wartawan bernama Barbara Walters datang bersama teman-temannya yang berurai air mata karena masing-masing kehilangan seorang putra dalam malapetaka itu, Frank mengantar mereka pada salib tersebut. Jawaban bagi kepedihan dan kejahatan yang mengerikan di dunia ini sesungguhnya bukan berupa argumen filosofis atau risalah teologis. Jawaban yang tepat adalah salib di Kalvari, di mana dalam kasih karunia yang tak terukur, Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia, mengambil alih beban dosa kita dan memikulnya "di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita ... hidup untuk kebenaran" (1 Petrus 2:24).

Jika Anda belum menghampiri salib Kalvari, saya akan mengajak Anda ke sana. Yesus mati bagi Anda dan bangkit kembali. Percayalah kepada-Nya dan Anda akan diselamatkan (1 Korintus 1:21) --VCG


JALAN MENUJU SURGA DIAWALI DI KAKI SALIB KRISTUS

Terbang Mundur

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14)

Saya pernah membaca bahwa burung kolibri dapat terbang mundur, tetapi dengan sinis saya meragukannya. Maka, ketika istri saya menaruh wadah pakan kolibri di jendela dapur serta mengisinya dengan air gula, saya pun duduk sambil menikmati secangkir kopi untuk mengamati kebenarannya.

Tidak lama kemudian, burung-burung kolibri pun mulai berdatangan-jantan berleher merah dengan beberapa betina. Saya menyerah ketika berusaha mengamati sayap-sayap mereka saat mereka terbang. Saya hanya melihat sesuatu yang kabur.

Saya terpesona oleh semangat makhluk-makhluk kecil tersebut ketika mereka melesat naik-turun secepat anak panah, datang dan pergi, berebut lubang terbuka di wadah pakan dan saling mengusir. Beberapa waktu kemudian, hanya seekor burung yang tersisa. Paruhnya yang panjang dan tipis mengisap cairan gula. Kemudian, ketika selesai, ia terbang lurus ke belakang, menanjak, dan akhirnya melesat hilang dari pandangan, di antara pepohonan.

Bagaimana ia melakukannya? Hanya Tuhan yang tahu. Pada hari kelima penciptaan, pada saat membentuk ikan-ikan paus, hiu, kepodang, dan burung undan, Tuhan menciptakan kolibri dengan kemampuan terbang mundur yang menakjubkan-keajaiban kuasa-Nya.

Saya tidak memerlukan ilustrasi yang mengesankan itu untuk membuktikan keberadaan dan kebesaran Tuhan. Hal itu mengingatkan saya sekali lagi bahwa saya memiliki segala alasan untuk memuji Tuhan, karena "kejadianku dahsyat dan ajaib" (Mazmur 139:14) -DCE

SEGALA CIPTAAN MENUNJUK KEPADA SANG PENCIPTA YANG MAHAKUASA

Selasa, 09 September 2014

Gagal berbuat benar

Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4:17)

Dalam buku yang berjudul Eight Men Out, Eliot Asinof menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi di skandal "Black Sox" yang terkenal pada tahun 1919. Delapan anggota klub bisbol Chicago White Sox dituduh telah menerima suap dari para penjudi sebagai kompensasi agar mengalah dalam pertandingan di tingkat dunia. Walaupun tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan, mereka berdelapan dilarang bermain bisbol seumur hidup.

Namun salah seorang di antara mereka, Buck Weaver, menyatakan bahwa ia telah bermain agar klubnya menang meskipun ia mengetahui adanya persekongkolan. Meskipun penampilan Weaver di lapangan memang mendukung pernyataannya itu, akan tetapi komisi bisbol Kenesaw Mountain Landis membuat aturan bahwa siapa saja yang mengetahui skandal itu, namun tidak mencegahnya, tetap akan dilarang bermain.

Weaver tidak dihukum karena berbuat salah, tetapi karena gagal berbuat benar. Dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat gereja abad pertama, Yakobus menulis, "Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17).

Di dunia yang dipenuhi oleh kejahatan dan kegelapan, para pengikut Kristus memiliki kesempatan untuk memancarkan cahayanya. Kerap kali hal itu berarti kita harus melawan dorongan untuk tetap berdiam diri. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk berbuat baik atau tidak berbuat apa-apa, kita harus selalu memilih untuk melakukan sesuatu yang benar -WEC

SATU-SATUNYA YANG DAPAT MEMBUAT KEJAHATAN MENANG
ADALAH ORANG-ORANG BAIK YANG TAK BERBUAT APA PUN -Edmund Burke

Sabtu, 06 September 2014

Penanaman

Kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah (1Korintus 15:51)

Di sekolah, seorang anak lelaki berusia delapan tahun mempelajari pertumbuhan tanaman. Ia penasaran dengan bagaimana sebuah biji kecil yang tumbuh di tanah dapat menembus permukaan tanah dan menjadi tanaman di kemudian hari.

Pada saat yang sama, ia dan keluarganya menghadiri pemakaman seorang anggota keluarga. Dalam kebaktian, sang pendeta berkhotbah tentang kebangkitan tubuh kita pada akhir zaman. Beberapa hari kemudian, saat keluarga ini bepergian dan melewati kuburan itu, anak laki-laki ini berkata, "Di tempat itulah manusia ditanam." Benih yang ditanam di tanah dan tubuh yang dikubur karena kematian sepertinya berkaitan di dalam benaknya yang masih muda.

Rasul Paulus juga memakai ilustrasi tentang menanam benih untuk menggambarkan kematian, penguburan, dan kebangkitan kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15). Ia mengatakan bahwa meski tubuh orang kristiani dikubur di dalam tanah, tubuh itu suatu hari kelak akan dibangkitkan pada kehidupan yang baru (ayat 42). Tubuh alami kita ini lemah, tetapi tubuh rohani kita akan bebas dari penyakit, kemunduran kesehatan fisik, dan kematian (ayat 43,44).

Tubuh baru kita akan dimuliakan, dianugerahi kekuatan, dan menyerupai tubuh Yesus yang telah bangkit. Kita menanti-nantikan saat nafiri berbunyi, saat orang-orang yang meninggal di dalam Kristus dibangkitkan, dan "kita semua akan diubah" (ayat 52). Sambil menantikan hari itu, marilah kita menyebarkan kabar baik tentang kemenangan kita atas maut melalui Yesus (ayat 56,57) --AMC

KEBANGKITAN KRISTUS MENJAMIN KEBANGKITAN KITA

"DISITULAH SURGA"

Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka (Wahyu 22:5)

Ketika Bree berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman, ketika Bree dan keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan mengungkap pemahamannya, "Di situlah surga." Ia tahu kakeknya sudah ke surga. Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree berpikir bahwa di sanalah surga itu.

Ibu Bree menulis, "Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak mengenai surga yang ada di balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita lihat." Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree tentang surga membuat sang ibu berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu membuatnya terhibur.

Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu. Setelah diangkat ke surga, ia melihat "sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal" dan "pohon kehidupan" (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak membutuhkan "cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka" (ayat 5).

Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita meyakini bahwa surga adalah tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus meyakinkan kita, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2). Suatu hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu lagi -AMC

SURGA ADALAH TEMPAT YANG DISIAPKAN BAGI ORANG YANG SIAP

Kamis, 04 September 2014

Mahabesar dan Mahabaik

Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa .... Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan (Nahum 1:3,7)


Ketika kami masih kecil, saya dan kakak laki-laki saya selalu mengucapkan doa seperti berikut ini sebelum makan malam: Allah mahabesar, mahabaik. Marilah kita mengucapkan syukur kepada-Nya atas makanan ini. Selama bertahun-tahun saya mengucapkan doa ini tiada henti-hentinya karena saya tidak tahu akan seperti apa hidup saya nantinya jika hal ini tidak benar yaitu, jika Allah sebenarnya tidak mahakuasa dan tidak baik.

Tanpa kebesaran-Nya yang menjaga keteraturan di alam semesta, semua galaksi akan menjadi tempat sampah bintang-bintang dan planet-planet yang bertabrakan. Dan tanpa kebaikan-Nya yang berkata cukup untuk setiap penguasa jahat, maka bumi akan seperti taman bermain yang dikuasai oleh penggertak besar. Doa masa kecil yang sederhana itu memuji dua sifat dasar Allah: transenden dan imanen. Transenden berarti bahwa kebesaran-Nya melampaui pemahaman kita. Imanen menggambarkan kedekatan-Nya kepada kita. Kebesaran Allah yang mahakuasa membuat kita tersungkur dalam kerendahan hati. Akan tetapi, kebaikan Allah mengangkat kita kembali dalam puji-pujian kemenangan dan ucapan yang penuh syukur. 

Dia yang mengatasi segala sesuatu merendahkan diri-Nya dan menjadi bagian dari kita (Mazmur 135:5, Filipi 2:8). Puji Tuhan karena Dia mempergunakan kebesaran-Nya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan kita. Selain itu, Dia mempergunakan kebaikan-Nya bukan sebagai alasan untuk menolak kita, melainkan untuk meraih kita. - JAL



MANAKALA ANDA MERASAKAN KEBAIKAN ALLAH PUJI-PUJIAN KEPADA-NYA AKAN KELUAR DARI BIBIR ANDA

Pelajari ProsesNya

Salam Kemenangan,

Dalam anugrahNya saya masih di ijinkan Tuhan untuk dapat menulis kembali di blog ini, Beberapa hari yang lalu Tuhan tiba-tiba membangunkan saya sekitar pukul 3 dini hari. Hari itu tidak seperti hari-hari biasanya dimana Tuhan juga membangunkan saya, di malam itu entah kenapa saya pun mendadak tidak mengerti apa yang harus saya lakukan dan saya hanya mencoba bertanya pada Tuhan apa yang Dia inginkan. Lama Dia tak bicara sedikitpun namun yang aneh tiba-tiba dalam pikiran saya  seperti muncul sebuah pertanyaan "mengapa angka itu hanya ada dari 0 - 9?" dan saya pun langsung bertanya pada Tuhan mengapa demikian.

Saat saya menanyakan pertanyaan tersebut pada Tuhan dia hanya berkata 1 hal pada saya "PROSES nak". saya pun awalnya tidak mengerti apa maksudnya apa hubungannya antara angka dan proses. tak lama kemudia Roh Kudus memberikan hikmat demikian. setiap angka itu memiliki makna atau arti masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain.

0 - angka 0 bicara soal kekosongan atau hati seorang hamba. ini merupakan masa di mana kita belum mengenal Tuhan dan belum lahir baru, setiap kita hanya butiran debu yang tidak berguna. namun tuhan dengan semua anugrahNya mengangkat kita dan Ia memperkenalkan dirinya kepada setiap kita sehingga kita dapat masuk ke angka 1.

1 - angka 1 berbicara soal Tuhan atau mengutamakan, ini adalah masa di mana setiap kita mulai mengenal Kristus dan mulai menerima Dia sebagai Tuhan dan juruselamat setiap kita. sebagaimana layaknya seorang yang lahir baru ia akan terus mengutamakan Tuhan dalam dirinya dan hanya berfokus pada Tuhan tidak yang lain. namun untuk Tuhan itu masih belum cukup Dia selalu menginginkan kita untuk Next Level so dia membawa lita ke level yang baru ya itu 2.

2 - angka 2 berbicara tentang keintiman. so saat kita telah lahir baru Tuhan menginkan setipa kita dapat memiliki keintiman dengan Dia, dimana kita belajar untuk menyenangkan Dia, belajar untuk mengerti isi hatiNya, menyelesaikan setiap kehendaknya bukan karena takut tetapi karena kita mencintaiNya. kita pun tidak berhenti sampai disini Dia terus mebawa kita masuk jauh lebih dalam  masuk dalam angka 3.

3 - angka 3 berbicara tentang trinitas, yaitu Allah Bapa, Putra dan Roh kudus. di sini kita bukan lagi hanya fokus pada Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat tetapi mulai di perkenalkan lebih dalam tentang pribadi BAPA dan Roh Kudus, diamana kita pun harus mulai membangun hubungan yang intim dengan masing pribadi.

4 - angka 4 berbicara tentang keseimbangan. kalu kita kembali melihat sebuah salib itu bukan hanya sebuah garis vertikal yang tegak lurus melainkan ada garis horisontal yang sebenarnya berbicata tentang hubungan kita dengan sesama. banyak anak-anak Tuhan yang berfikir kalau ikut Tuhan itu tidak boleh setengah-setangah saya tidak berkata itu salah, tetapi saat fokus kita hanya Tuhan dan lupa akan orang-orang di sekitar kita itulah yang merupakan sebuah kesalahan. ingat setiap kita di ciptakan untuk menjadi saksi dan menjadi berkat bagi dunia ini so kita memerlukan sebuah keseimbangan untuk mulai mengatur antara hubungan kita denga Tuhan dan juga hubungan kita dengan sesama kita.

5 - angka 5 berbicara tentang anugrah. Untuk kita dapat seimbang dlm hubungan kita dan Tuhan itu jelas tidak mudah oleh karena itu TUHAN memberikan kita anugrahNya. Karna sebenarny tanpa anugrah kita tidak dapat berbuat apa pun, karna kalau sampai saat ini kita masih dapat melakukan banyak hal, dari melakukan pekerjaan kita, study kita, pelayanan kita itu smua hanya karena DIA masih memberikan anugrah tersebut pada kita. Bahkan tanpa kita sadari kita msh dapat memasukan makanan kemulut kita itu pun anugrah ada suatu ketika saat saya share hal ini pada seorang teman dia berkata "itu kan emang kita sudah biasa aja mangkannya dapat memasukan makanan ke mulut" di saat dia berkata seperti it tiba-tiba saja dia bisa gagal menyuap nasi yang ad pada sendok ditangannya, detik itu juga dia menyadari kalau smua hanya karna anugrah bukan karna kemampuan dan kepintaran kita.

6 - angka 6 berbicara tentang manusia. manusia? Mengapa manusia ya karna angka ini berbicara juga soal kedagingan, keegoisan, bahkan kesombongan kita sebagai manusia.
sering kali kita sebagai manusia sering lupa diri saat Tuhan sudah memberikan banyak angurah yang luar biasa pada kita sehingga setiap kita cenderung mulai menjauh dan melupakan Tuhan. Ada sebuah lagu yang berkata  "ku mau cinta Yesus Selamanya 2x, Meskipun badai silih berganti dalam hidupku Ku tetap cinta Yesus selamanya" tentu banyak anak tuhan yang tidak asing dengan lagu tersebut walau saya pribadi kurang setuju dengan lagu tersebut. saat seseorang dalam badai dan cobaan mereka pasti akan sungguh-sungguh mencari Tuhan. tetapi justru saat kita berkelimpahan berkat lah itu titik yang banyak menjadi titik kejatuhan anak-anak Tuhan.

7 - Angka 7 berbicara tentang sempurna. ini adalah masa di mana Tuhan mulai menyempurnakan setiap kita untuk menjadi makin serupa dengan DIA, dan membuat kita dapat bekerja dan menjadi alatNYA secara lebih luar biasa. tetapi untuk menjadi sempurna setiap kita harus mengalami juga yang di sebut masa pemurnian atau pikul salib, dimana kita akan mulai di uji dan mengalami banyak hal yang sepertinya tidak mengenakan secara daging tetapi tujuannya ialah untuk membuat kita menuju kesempurnaan. so saat Tuhan ijinkan kita mengalami suatu pencobaan jangan lah minta untuk ujian tersebut di cabut tetapi mintalah kemampuan untuk melewati setiap cobaan tersebut yang akan membawa kita dari kemulian pada kemuliaan.

8 - angka 8 berbicara awal yang baru atau infiniti ini adalah masa yang luar biasa karena masa ini merupakan awal yang baru bagi setiap anak-anak Tuhan yang berhasil keluar dari masa pemurnian atau sering juga di sebut masa padang gurun. bahkan di masa ini juga kita mulai berkat-berkat yang terus mengalir mempersiapkan setiap kita pada masa kelimpahan. tetapi pada masa ini kita akan di ajar untuk lebih lagi menjadi saluran berkat. pada titik ini setiap kita harus mulai bertanya pada Tuhan untuk setiap berkat-berkat yang kita trima, apakah berkat tersebut memang untuk kita atau kita harus berikan pada orang lain. ini masa di mana setiap kita mulai harus lebih peka dan mengenal isi hatiNYA

9 - angka 9 berbicara soal kelimpahan. ini lah yang sebenarnya Tuhan inginkan bagi setiap kita seperti dalam Yohanes 10.10b "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan". ini lah yang menjadi bagian setiap kita orang percaya yaitu hidup berkelimpahan. so mengapa Tuhan inginkan kita berkelimpahan? setiap kita ada di dunia itu memiliki sebuah tujuan tersendiri bagitu juga saat Tuhan menjadikan kita hidup berkelimpahan itu di karenakan Tuhan ingin setiap kita dapat menjadi berkat bagi orang lain sehingga orang-orang di luar sana dapat mengenal Tuhan melalui kita.

Saat ini saya berdoa supaya setiap kita mulai mencintai proses TUHAN tidak lagi salah merespon dalam setiap proses yang akan mendewasakan kita dan membawa kita pada hidup yyang berkelimpahan.-HNZ

MARAH, KOMPLAIN, MENGGRUTU HANYA AKAN MEMPERLAMBAT KITA MENUJU KELIMPAHAN

Rabu, 03 September 2014

DI ANTARA HARI MINGGU

Bacaan: Kolose 3:22-25
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)

Kebanyakan orang kristiani tidak terlibat dalam suatu pelayanan secara profesional. Mereka tidak memberikan khotbah, menyanyi, atau bekerja untuk suatu lembaga pengabaran Injil. Hari-hari yang mereka lalui di antara hari Minggu dihabiskan untuk melakukan pekerjaan yang tampaknya tidak ada gunanya bagi penyebaran Injil. Oleh karena itu, sebagian orang percaya barangkali akan memandang diri mereka sebagai murid kelas dua. 

Barangkali demikianlah cara pandang sebagian anggota gereja di Kolose terhadap diri mereka sendiri. Paulus menunjuk cara pandang yang keliru terhadap pekerjaan sehari-hari pada saat ia menulis, "Taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal ... dengan tulus hati karena takut akan Tuhan" (Kolose 3:22). 

Jika tujuan-tujuan TUHAN di dunia ini akan digenapi, maka kita memerlukan masyarakat yang terstruktur dengan segala kegiatan yang sangat penting. Atasan-atasan kita adalah hamba Tuhan Yesus Kristus. Entah mereka mengetahuinya atau tidak, orang-orang yang mempekerjakan kita sedang melaksanakan tujuan baik TUHAN. Selama tugas yang diberikan tidak merupakan suatu dosa atau suatu hal yang tidak etis, maka ketika kita melayani atasan berarti kita melayani Tuhan. 

Jadi, marilah kita memandang pekerjaan sehari-hari kita-apa pun itu-sebagai perpanjangan karya TUHAN di dunia. Dengan demikian, kita akan mendapati bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk menyebarkan kabar baik tentang keselamatan selain tempat di mana TUHAN menempatkan kita -VCG 


BAGI ORANG KRISTIANI

PEKERJAAN ADALAH PELAYANAN


Selasa, 02 September 2014

Berdiam sejenak

Sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada Tuhan dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa 

(1Raja 19:12)

Pada tahun-tahun belakangan ini, maraknya penggunaan alat pemutar musik digital telah merusak pendengaran banyak orang. Selama ini, keberadaan alat itu beserta earphonenya sudah menjadi objek keluhan masyarakat dan tuntutan hukum. Mendengarkan musik dengan volume tinggi dalam jangka waktu yang lama telah menunjukkan dampak yang serius, yakni kerusakan pada pendengaran. Dalam beberapa hal, terlalu banyak mendengarkan ternyata dapat membuat telinga tuli. Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan suara. Suara itu dapat berupa suara yang dirancang untuk memengaruhi seseorang untuk membeli sesuatu, memohon, menggoda, dan menipu. Di tengah hiruk pikuk suara tersebut, kita dapat dengan mudah tak mengindahkan satu suara yang justru sangat berarti.

Elia mendengarkan ancaman Izebel dan suara rasa takutnya sendiri, sehingga ia lari dan bersembunyi dalam sebuah gua. Di gua tersebut ia dihadapkan pada suara angin yang kencang dan kuat, gempa bumi, serta api (1 Raja-raja 19:11,12).
Kemudian, gua itu menjadi sunyi sehingga suara Tuhan -- satu-satunya suara yang penting -- menyeruak berupa "bunyi angin sepoi-sepoi basa" (ayat 12). 
Jika kita ingin mendengar Tuhan berbicara pada hati kita melalui firman-Nya, hal yang perlu kita lakukan adalah menjauhkan diri dari keramaian. Saat kita belajar untuk berdiam diri, kita akan benar-benar memahami artinya bersekutu dengan Tuhan yang memedulikan kita. Dalam "saat teduh" kita hari ini, marilah kita berusaha mendengarkan suara TUHAN --HNZ



UNTUK MENDENGARKAN SUARANYA KECILKAN VOLUME SUARA DUNIA