Kamis, 11 September 2014

Menyanyi Bagi Tuhan

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)

Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi. 

Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian tetapi Tuhan melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti.
Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).

Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Tuhan akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Tuhan masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita.

Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13). Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi! DHR

PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN

Membawa Mereka ke Salib

Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus (Galatia 6:14)

Banyak kisah mengharukan beredar setelah terjadinya serangan teroris di gedung World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Tampaknya tidak ada seorang pun yang merasakan pengalaman rohani dalam peristiwa itu, kecuali Frank Silecchia, seorang pandai besi. 

Saat membantu mencari mayat-mayat yang tertimbun, Frank memerhatikan ada dua tiang baja berbentuk salib berdiri tegak di tengah reruntuhan. Frank yang menemukan kekuatan saat melihat simbol kasih Tuhan yang tampak mencolok itu, kerap membawa para pengunjung yang pilu untuk melihat salib tersebut. Banyak di antara mereka terhibur oleh kesaksian bisu tentang adanya hadirat ilahi dalam tragedi naas itu.

Suatu hari, ketika seorang wartawan bernama Barbara Walters datang bersama teman-temannya yang berurai air mata karena masing-masing kehilangan seorang putra dalam malapetaka itu, Frank mengantar mereka pada salib tersebut. Jawaban bagi kepedihan dan kejahatan yang mengerikan di dunia ini sesungguhnya bukan berupa argumen filosofis atau risalah teologis. Jawaban yang tepat adalah salib di Kalvari, di mana dalam kasih karunia yang tak terukur, Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia, mengambil alih beban dosa kita dan memikulnya "di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita ... hidup untuk kebenaran" (1 Petrus 2:24).

Jika Anda belum menghampiri salib Kalvari, saya akan mengajak Anda ke sana. Yesus mati bagi Anda dan bangkit kembali. Percayalah kepada-Nya dan Anda akan diselamatkan (1 Korintus 1:21) --VCG


JALAN MENUJU SURGA DIAWALI DI KAKI SALIB KRISTUS

Terbang Mundur

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14)

Saya pernah membaca bahwa burung kolibri dapat terbang mundur, tetapi dengan sinis saya meragukannya. Maka, ketika istri saya menaruh wadah pakan kolibri di jendela dapur serta mengisinya dengan air gula, saya pun duduk sambil menikmati secangkir kopi untuk mengamati kebenarannya.

Tidak lama kemudian, burung-burung kolibri pun mulai berdatangan-jantan berleher merah dengan beberapa betina. Saya menyerah ketika berusaha mengamati sayap-sayap mereka saat mereka terbang. Saya hanya melihat sesuatu yang kabur.

Saya terpesona oleh semangat makhluk-makhluk kecil tersebut ketika mereka melesat naik-turun secepat anak panah, datang dan pergi, berebut lubang terbuka di wadah pakan dan saling mengusir. Beberapa waktu kemudian, hanya seekor burung yang tersisa. Paruhnya yang panjang dan tipis mengisap cairan gula. Kemudian, ketika selesai, ia terbang lurus ke belakang, menanjak, dan akhirnya melesat hilang dari pandangan, di antara pepohonan.

Bagaimana ia melakukannya? Hanya Tuhan yang tahu. Pada hari kelima penciptaan, pada saat membentuk ikan-ikan paus, hiu, kepodang, dan burung undan, Tuhan menciptakan kolibri dengan kemampuan terbang mundur yang menakjubkan-keajaiban kuasa-Nya.

Saya tidak memerlukan ilustrasi yang mengesankan itu untuk membuktikan keberadaan dan kebesaran Tuhan. Hal itu mengingatkan saya sekali lagi bahwa saya memiliki segala alasan untuk memuji Tuhan, karena "kejadianku dahsyat dan ajaib" (Mazmur 139:14) -DCE

SEGALA CIPTAAN MENUNJUK KEPADA SANG PENCIPTA YANG MAHAKUASA