Minggu, 29 Oktober 2017

PERSEMBAHKAN TUBUHMU


Salam Perjuangan

Rasul Paulus berkata dalam Roma 12.1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati

Hari-hari ini saya makin di buat geram oleh kelakuan iblis dalam menyesatkan anak-anak Tuhan. salah satu yang menjadi alatnya hari-hari ini ialah K-pop banyak anak Tuhan tidak menyadari kalau mereka mulai di sesatkan melalui hal-hal tersebut. dalam hal ini bukan berarti saya anti K-pop or K-pop dari setan NO!!!
saya hanya membagikan apa yang menjadi kekuatiran saya di tengah banyaknya penari-penari Tuhan yang mulai "tiru-tiru" baik dari gerakan yang erotis sampai baju-baju yang minim. terutama saat mereka menyebut diri mereka penari profetik. dimana yang kita ketahui penari profetik ialah para penari yang menarikan nubuatan-nubuatan yang mereka dapat dari Tuhan.
so paulus dengan tegas berkata PERSEMBAHKAN TUBUHMU SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP, so dengan kata lain harusnya sebagai penari-penarinya Tuhan berani berkata tidak pada apa yang dunia tawarkan. sangat lah mengecewakan saat seorang penari Tuhan justru mengikuti arus dunia yang tanpa mereka sadari mereka sedang mempersembahkan tubuhnya pada dunia.
sebagai seorang yang dewasa secara rohani yang menjadi tolak ukur bukanlah boleh atau tidak kita melakukan sesuatu. tapi seperti yang rasul paulus katakan pada ayat berikutnya
Roma 12.2. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
jadi sodaraku di masa akhir jaman ini biarlah setiap kita menimbang setiap apa yang hendak kita lakukan apakah itu baik? apakah itu berkenan? bahkan apakah itu sempurna di hadapan Tuhan.
1 Korintus 8.9. Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.
so akhir kata saya berdoa setiap kita dapat lebih bijak dalam melakukan segala hal dan memikirkan apakah yang kita lakukan berkenan dihadapannya?

Kamis, 11 Mei 2017

Benar dihadapan TUHAN?

Salam perjuangan,

Hari-hari ini saya banyak belajar dari kasus Ahok, dari kasus seorang Ahok memunculkan banyak sekali orang-orang yang mengganggap dirinya paling “BENAR” dan menggangap dirinya paling benar dan orang lain yang tidak sependapat, tidak sepaham, atau pun tidak sealiran dianggap salah. So saya teringat akan sebuah ayat dalam Matius 7.1-5 yg berbunyi  "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." Tanpa kita sadari kita sering kali mengganggap diri kita yang paling dan lebih benar di banding dengan orang lain. Bahkan saya sering kali juga mendengar banyak anak Tuhan yang berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” setiap kita memang sudah diselamatkan dan menjadi dibenarkan oleh Tuhan seperti yang tertulis dalam Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, dan ada ayat lain yang berkata Lukas 16:15
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. Dari kedua ayat di atas kita dapat mengerti kalau kita ini di benarkan n di selamatkan itu bukan karena kehebatan kita tapi anugrah dari Tuhan. So tanpa disadari saat kita berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” coba kita cek hati kita masing-masing jangan sampai perkataan tersebut merupakan senjata untuk kita membela diri agar tidak di kritik orang, dan untuk kita tetap berada dalam zona nyaman kita.

Setiap dari kita anak-anak Tuhan tentu sadar benar arti standart kata “benar” dalam alkitab, benar dapat di artikan dapat melakukan 100% seperti yang tertulis dalam alkitab. So mari berfikir apakah kita sudah melakukan seluruh yang tertulis dalam alkitab? Apakah kita mampu melakukan yang tertulis dalam alkitab? Saya rasa sulit untuk menemukan orang yang mampu melakukan semuanya kecuali Yesus. Saya kembali teringat akan sebuah kisah di alkitab tentang seorang muda yang kaya, yang datang kepada Yesus bertanya bagaimana memperoleh hidup yang kekal dan Yesus pun menyuruhnya melakukan 10 perintah Allah, namun ank muda tersebut berkata semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang? Dan akhirnya Yesus pun berkata untuk menjual semua hartanya dan mengikuti Dia, yang akhirnya kita semua tau anak muda tersebut pergi meninggalkan Yesus.
Namun yang luar biasa dalam cerita tersebut ialah anak muda ini telah melakukan seluruh perintah dalam 10 Perintah tersebut, dan Yesus pun tidak membantah hal tersebut karena saya cukup yakin kalau Yesus pun mengetahui memang anak muda tersebut telah melakukan semuanya.
So kalau kita bicara standart kebenaran kita tentu ingat akan standart yang Yesus tetapkan untuk setiap orang percaya dalam matius 5-7 yang di kenal sebagai kotbah di bukit, atau banyak pendeta berkata Jesus Teaching. Itu merupakan standart yang Yesus terapkan pada setiap anak-anakNya.

Jadi saat kita berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” sudah seharusnya pula kita sudah melakukan semua standart yang Yesus tetapkan. Saya berdoa supaya setiap kita tidak lagi dengan mudahnya berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” padahal sesungguhnya itu hanya merupakan bentuk pembelaan diri kita belaka. Biarlah mulai saat ini saya berdoa roh kudus yan terus mengkoreksi setiap kita sehingga kita pada ahkirnya boleh dibenarkan oleh Tuhan bukan membenarkan diri kita sendiri.

-Stefanus Hendra Widjaja-