Salam perjuangan,
Hari-hari ini saya
banyak belajar dari kasus Ahok, dari kasus seorang Ahok memunculkan banyak
sekali orang-orang yang mengganggap dirinya paling “BENAR” dan menggangap
dirinya paling benar dan orang lain yang tidak sependapat, tidak sepaham, atau
pun tidak sealiran dianggap salah. So saya teringat akan sebuah ayat dalam
Matius 7.1-5 yg berbunyi "Jangan kamu
menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu
pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk
mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata
saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah
engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu
dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah
dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk
mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." Tanpa kita sadari
kita sering kali mengganggap diri kita yang paling dan lebih benar di banding
dengan orang lain. Bahkan saya sering kali juga mendengar banyak anak Tuhan
yang berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” setiap kita memang sudah
diselamatkan dan menjadi dibenarkan oleh Tuhan seperti yang tertulis dalam Efesus
2:8
Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah, dan ada ayat lain yang berkata Lukas 16:15
Lalu
Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi
Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. Dari kedua ayat di
atas kita dapat mengerti kalau kita ini di benarkan n di selamatkan itu bukan
karena kehebatan kita tapi anugrah dari Tuhan. So tanpa disadari saat kita
berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” coba kita cek hati kita
masing-masing jangan sampai perkataan tersebut merupakan senjata untuk kita
membela diri agar tidak di kritik orang, dan untuk kita tetap berada dalam zona
nyaman kita.
Setiap dari kita anak-anak Tuhan
tentu sadar benar arti standart kata “benar” dalam alkitab, benar dapat di
artikan dapat melakukan 100% seperti yang tertulis dalam alkitab. So mari
berfikir apakah kita sudah melakukan seluruh yang tertulis dalam alkitab? Apakah
kita mampu melakukan yang tertulis dalam alkitab? Saya rasa sulit untuk
menemukan orang yang mampu melakukan semuanya kecuali Yesus. Saya kembali
teringat akan sebuah kisah di alkitab tentang seorang muda yang kaya, yang
datang kepada Yesus bertanya bagaimana memperoleh hidup yang kekal dan Yesus
pun menyuruhnya melakukan 10 perintah Allah, namun ank muda tersebut berkata semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih
kurang? Dan akhirnya Yesus pun berkata untuk menjual semua hartanya dan
mengikuti Dia, yang akhirnya kita semua tau anak muda tersebut pergi
meninggalkan Yesus.
Namun yang luar biasa dalam cerita
tersebut ialah anak muda ini telah melakukan seluruh perintah dalam 10 Perintah
tersebut, dan Yesus pun tidak membantah hal tersebut karena saya cukup yakin
kalau Yesus pun mengetahui memang anak muda tersebut telah melakukan semuanya.
So kalau kita bicara standart
kebenaran kita tentu ingat akan standart yang Yesus tetapkan untuk setiap orang
percaya dalam matius 5-7 yang di kenal sebagai kotbah di bukit, atau banyak
pendeta berkata Jesus Teaching. Itu merupakan standart yang Yesus terapkan pada
setiap anak-anakNya.
Jadi saat kita berkata “YANG PENTING
KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” sudah seharusnya pula kita sudah melakukan semua
standart yang Yesus tetapkan. Saya berdoa supaya setiap kita tidak lagi dengan
mudahnya berkata “YANG PENTING KITA BENAR DIHADAPAN TUHAN” padahal sesungguhnya
itu hanya merupakan bentuk pembelaan diri kita belaka. Biarlah mulai saat ini
saya berdoa roh kudus yan terus mengkoreksi setiap kita sehingga kita pada
ahkirnya boleh dibenarkan oleh Tuhan bukan membenarkan diri kita sendiri.
-Stefanus Hendra Widjaja-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar