Jumat, 12 September 2014

Membuat Sebuah Mahakarya

Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Korintus 5:17)

Salah satu kenangan tentang Ayah di masa kanak-kanak saya adalah ia sangat suka mewarnai gambar yang diberi kode angka untuk masing-masing warna. Kanvas gambarnya memang besar, tetapi bidang yang diberi angka-angka untuk dipulas sesuai warna yang telah ditetapkan, tampak sangat kecil.

Ayah biasanya duduk di kursinya di ruang bawah tanah selama berjam-jam sembari mengerjakan gambar di hadapannya dengan sangat cermat sambil ditemani secangkir kopi di sampingnya. Ketika masih kecil, saya biasanya duduk di anak tangga ruang bawah tanah dan memandangi ayah saya dengan takjub.

Saya sangat sadar bahwa mewarnai lukisan dengan kode warna semacam itu tidak akan pernah menjadikan ayah saya seorang seniman terkenal. Namun, saya begitu takjub saat mengamati kesabarannya dalam mengerjakan setiap lukisan tersebut. Akhirnya, ribuan serpihan warna di situ membentuk sebuah gambar yang membuat ayah saya merasa puas.

Tatkala merenungkan kesabaran Ayah dalam menghidupkan sebuah lukisan, saya teringat kepada Bapa surgawi. Saat menatap hidup kita, Dia melihat begitu banyak kehampaan serta ketidaksempurnaan, tetapi Dia bekerja dengan penuh kasih dan kesabaran untuk menjadikan kita mahakarya-Nya -- sebuah mahakarya yang "serupa dengan gambaran Anak-Nya" (Roma 8:29).

Alangkah bersukacitanya kita memiliki Tuhan seperti itu, yang menjadikan kita ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17) dan tidak pernah lelah memberikan kesabaran dan ketekunan-Nya untuk menjadikan hidup kita indah! --WEC

HANYA TUHAN YANG MAMPU MENGUBAH JIWA YANG TERNODA DOSA MENJADI MAHAKARYA ANUGERAH

Pindah Alamat

Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-itu memang jauh lebih baik (Filipi 1:23)

Setiap 26 tahun atau lebih, kami pindah ke rumah baru. Sebenarnya, saya dan Sue pindah ke rumah pertama kami pada saat putri pertama kami masih bayi.

Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menempati rumah itu selama 26 tahun. Kami merasa sangat sedih ketika harus meninggalkan rumah itu untuk pindah ke rumah yang lain. Pada hari kepindahan kami, setelah semua barang dikeluarkan dari rumah, kami berjalan mengelilingi rumah itu untuk terakhir kalinya, untuk menghidupkan kembali kenangan yang kami miliki.

Saat yang tersulit bagi kami adalah ketika kami masuk ke kamar Melissa. Ia meninggalkan kami dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya. Sekarang, kami harus mengatakan selamat tinggal pada kamar yang penuh hiasan bunga matahari kesukaannya.

Ketika saya merenungkan saat yang emosional ketika kami pindah rumah, saya diingatkan kembali tentang kepindahan luar biasa yang dialami Melissa saat ia menghadap ke hadirat Allah.

Kepindahan kami ke rumah yang baru tersebut tidak sebanding dengan kemuliaan yang kini dirasakan putri kami di surga. Kami merasakan penghiburan sangat besar ketika menyadari bahwa orang terkasih kami yang telah meninggal, yang percaya kepada Yesus, kini tinggal di kerajaan Allah yang megah! (2Korintus 5:1).

Apakah Anda sudah siap pindah "rumah" untuk yang terakhir kalinya? Di mana pun tempat tinggal Anda di dunia ini, pastikanlah bahwa rumah terakhir yang akan Anda tempati nantinya adalah surga -JDB

RUMAH SURGAWI KITA ADALAH RUMAH KITA YANG SEBENARNYA