Minggu, 24 Agustus 2014

Worship VS Worshiper



Salam Perjuangan,

Di akhir dari jaman ini kalau kita kembali melihat anak-anak TUHAN dalam gereja banyak sekali keadaan yang sangat menyedihkan. mengapa menyedihkan? di karenakan hari-hari ini banyak sekali anak-anak TUHAN yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang penyembah. Saat di dalam gereja mungkin kita masih menemukan orang-orang yang menyembah TUHAN tp apakah benar mereka menyembah? tentunya hanya TUHAN dan diri mereka sendiri yang mengetahuinya, tetapi faktanya untuk kita menyembah saat dalam ibadah gereja memang lah mudah karena hanya mengikuti arahan or bimbingan dari worship leader. Tetapi destini setiap kita bukan hanya berhenti saat kita menyembah dalam gedung gereja. tetapi sampai pada titik di mana setiap kita menjadi seorang penyembah, seorang penyembah yang menyembah dalam roh dan kebenaran.

Saat saya share hal ini pada teman saya dia berkata "menyembah dan penyembah ya sama saja"
tetapi faktanya menyembah dan penyembahan adalah hal  yang jauh berbeda. untuk menyembah saya yakin smua orang dapat menyembah tetapi penyembahan tidak semua orang bisa.
menyembah dadalah suatu kegiatan yang dapat di lakukan sewaktu-waktu. tetapi penyembah lebih berbicara soal gaya hidup seseorang, dimana dia memilih untuk menyembah TUHAN dengan segenap hidupnya.

Seorang penyembah dalam dia menyembah TUHAN bukan hanya saat dia di dalam gedung gereja, tetapi seorang penyembah dia akan terus menyembah dalam pekerjaanny, sekolahnya, bahkan seluruh aspek hidupnya itu menyembah Tuhan. Dalam KOLOSE  3.23 di katakan "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia" dengan kata lain saat kita melakukan apa pun saat hati kita tertuju pada TUHAN yang kita lakukan akan menjadi penyembahan kita pada TUHAN.

Saat ini saya berdoa supaya setiap saudara di mana pun kalian berada tidak hanya puas saat saudara dapat menyembah, tetapi saya berdoa setiap saudara mulai mengalami TUHAN secara pribadi dan menjadi penyembah-penyembah yang selalu dapat menyenangkan hati BAPA.

Rabu, 06 Agustus 2014

Bebas


Lukas 4:19

 "… untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tertawan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."


Pertikaian dan pertempuran antara Israel dan Palestina menyisakan banyak kesedihan, ketakutan, trauma, penderitaan, kehilangan, dan hilangnya sukacita. Hal itu masih berlanjut sampai sekarang. Hidup dalam ketakutan, mereka berjuang untuk hidup. Beberapa di antaranya, ada yang mengungsi dan melepaskan diri tidak hanya dari tanah kelahiran tapi juga dari pertempuran.
Tapi dapatkah kebebasan itu dapat dirasakan lagi? Dua kepentingan ada dalam konflik, yang satu tidak mau mengalah dengan yang lain. Namun, tidak menyadari bahwa si A kehilangan anak yang paling dicintainya, atau satu keluarga yang lain kehilangan tempat tinggal. Bahkan anak-anak harus mengalami trauma. Yang mereka kenal hanyalah kepentingan yang harus terpenuhi.

Seorang anak di Gaza mendapatkan pengharapan saat melihat ada seorang bapak yang tetap melakukan hal normal yang biasanya dia lakukan, yaitu menjual semangka. Hal itu menimbulkan harapan padanya, bahwa suatu hari nanti Gaza di dalam kedamaian dan dia berjuang untuk hidup.

Pernahkah kita berpikir bahwa seringkali kitapun mengalami hal yang sama. Mungkin bukan dalam wujud konflik yang sesungguhnya, tapi konflik itu ada di dalam batin kita. Sadarkah kita bahwa kita merupakan tawanan dari keinginan daging kita sendiri, dari keinginan jahat orang lain, atau mungkin dari hal-hal yang tidak kita sadari?

Sama seperti Paulus, kita ingin melakukan yang baik tapi yang jahat yang malah kita lakukan. Kita juga sering bertanya, mengapa hal buruk terjadi pada kita, mengapa masalah datang silih berganti tak ada habisnya. Akankah kita mendapatkan kebebasan dan terlepas dari semua masalah?

Jawabannya hal itu sangat mungkin. Kita dapat menemukan pengharapan akan adanya jalan keluar di dalam Yesus. Toh Dia memang sudah katakan bahwa Dia memberikan kebebasan kepada para tawanan. Namun, yang terpenting adalah apakah kita yakin pada-Nya? Yakinkah kita Dia dapat membebaskan kita, sungguh-sungguh berkuasa sehingga dapat memberi kebebasan itu? Percaya saja pada-Nya, itu yang terpenting.



Kita dapat menemukan pengharapan akan adanya jalan keluar di dalam Yesus. Toh Dia memang sudah katakan bahwa Dia memberikan kebebasan kepada para tawanan. Kita hanya harus percaya pada-Nya.